BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini sudah berkembang dengan sangat
pesat. Perkembangan tersebut diikuti dengan munculnya bermacam-macam penerapan
teknologi informasi yang terutama berkaitan dengan industri dan juga bisnis.
Pihak pelaku bisnis seperti organisasi ataupun perusahaan terus berusaha untuk
melakukan inovasi-inovasi agar dapat bersaing dengan organisasi atau perusahaan
lain maupun menyaingi organisasi atau perusahaan yang sama-sama bergerak di
bidang yang sama. Suatu perusahaan berusaha untuk menjadi yang terbaik di
antara pesaingnya dengan memberikan nilai lebih baik kepada perusahaan itu
sendiri dan juga pelanggannya.
Di dalam
persaingan dunia bisnis perusahaan membutuhkan sistem yang dapat bekerja secara
efektif dan efisien, agar perusahaan tetap dapat menjalankan bisnisnya seperti
biasa dengan kendala yang minim namun dapat menhasilkan keuntungan secara
maksimal. Perusahaan harus dapat memastikan bahwa bahan baku yang dimiliki oleh
perusahaan dapat diproses secara efektif dan efisien pula agar dapat
menghasilkan produk akhir yang baik dan dapat menjadi senjata rahasia
perusahaan untuk dapat memenangkan persaingan dengan perusahaan lain yang
dimana produk tersebut dapat merebut hati pelanggan dan dapat menarik minat
dari calon pelanggan baru.
Namun
tugas perusahaan tidak hanya sampai di situ, perusahaan harus mampu menjaga
stok produk tersebut agar selalu tersedia di tempat-tempat pelanggan dapat
membeli produk tersebut seperti retailer atau
pengecer, karena apabila perusahaan tidak mampu untuk menjaga stok produknya
dan suatu saat produk tersebut habis sehingga pelanggan tidak dapat membelinya,
pelanggan tersebut mau tidak mau pasti akan membeli produk yang sejenis namun
berasal dari perusahaan lain yang mungkin adalah perusahaan saingan.
Untuk
mencegah hal tersebut agar tidak terjadi, perusahaan sudah banyak yang
menerapkan sistem Supply Chain Management agar rantai pasokan yang dimiliki
oleh perusahaan dapat terjaga dan menjaga konsistensi dalam memproduksi produk
yang berkualitas dengan jumlah yang mencukupi. Namun di Indonesia, belum banyak
perusahaan yang menerapkan sistem tersebut atau sudah menerapkan namun
penerapannya belum secara efektif sehingga banyak ditemui masalah-masalah seperti
stok produk yang tidak tersedia di saat pelanggan membutuhkannya.
1.2 Ruang Lingkup
Dalam penulisan
yang bertemakan Suppy Chain Management
ini penulis menentukan beberapa poin penting untuk dijadikan ruang lingkup
penelitian. Ada pun beberapa ruang lingkup tersebut adalah:
1.
Definisi Supply
Chain Management
·
Di dalam
ruang lingkup ini penulis akan membahas tentang apa yang dimaksud dengan Supply Chain Management, siapa saja yang
menjadi pemain utama dalam SCM dan juga proses SCM serta apa saja yang akan
dikelola di dalam SCM.
2.
Pengembangan Supply Chain Management
·
Penulis
akan membahas pengembangan dari Supply Chain Management pada perusahaan, mulai
dari awal perkembangan SCM, cakupan pada SCM, prinsip-prinsip dasar dari SCM,
tujuan utama dari SCM, lima komponen dasar dari SCM, dan juga peralatan
fungsional yang dimiliki oleh sistem SCM.
3. Jenis-Jenis
Supply Chain Management
·
Di dalam
ruang lingkup ini penulis akan membahas tentang jenis-jenis dari Supply Chain Management yang ada. Ada 4
jenis Supply Chain Management yang
akan dibahas oleh penulis.
4. Global Supply Chain Management
·
Penulis
akan membahas apa yang dimaksud dengan Global
Supply Chain Management dan manfaat yang dapat diperoleh dari Global Supply Chain Management.
5. Permasalahan
pada Supply Chain Management dan
Solusinya
·
Pada
bagian ini penulis akan membahas bentuk-bentuk permasalahan yang dapat terjadi
dalam penerapannya dan juga membahas solusi yang dapat dilakukan terhadap
permasalahan tersebut.
6.
Dukungan Teknologi Informasi terhadap Supply
Chain Management dan Integrasi Sistem
·
Pada
bagian ini penulis akan membahas dukungan teknologi informasi atau IT terhadap Supply Chain Management dan sedikit
pembahasan integrasi sistem dari Supply
Chain Management.
7.
Integrasi Sistem
·
Pada
bagian ini penulis akan membahas lebih dalam bagaimana integrasi sistem pada Supply Chain Management dan juga
keuntungan dari integrasi tersebut pada perusahaan.
1.2 Tujuan
dan Manfaat
Tujuan dari Penelitian adalah:
· Memberikan penjelasan tentang pengertian Supply Chain Management dan tujuan dari
penerapannya.
· Memberikan penjelasan dari kemungkinan
permasalahan-permasalahan yang dapat dialami selama penerapan Supply Chain Management beserta solusi
terhadap permasalahannya.
· Menjelaskan tentang integrasi sistem pada Supply Chain beserta keuntungan dan juga
kekurangannya dan juga penjelasan dari integrasi Supply Chain dan Value Chain.
Manfaat yang akan diperoleh:
· Pembaca dari penulisan ini terutama perusahaan
dapat memahami secara penuh apa itu Supply
Chain Management sehingga dalam penerapannya bisa dilakukan secara benar,
efektif dan efisien.
· Pembaca dari penulisan ini dapat mempelajari
permasalahan-permasalahan tersebut dan dapat mempelajarinya sehingga apabila
perusahaan mengalami permasalahan tersebut, perusahaan bisa secara cepat
mengetahui solusinya.
· Pembaca dari penulisan ini dapat memahami
manfaat dari integrasi sistem Supply
Chain sehingga dapat mempertimbangkan baik atau buruknya ketika
mengintegrasikan sistem perusahaan dengan SCM.
1.3 Metodologi
Penelitian
Dalam
pembuatan karya ilmiah ini penulis menggunakan studi pustaka sebagai metode
pengumpulan data yang penulis butuhkan untuk memperkuat hipotesa yang penulis
sertakan dalam penulisan karya ilmiah ini. Studi pustaka yang kami lakukan
adalah mengumpulkan data yang kami butuhkan dari buku, majalah, dan
jurnal-jurnal online yang tersedia di internet. Selain itu penulis juga
menggunakan artikel-artikel yang ada di internet sebagai acuan untuk pencarian
data.
1.4 Sistematika
Penulisan
Penulisan karya ilmiah
ini dijabarkan dalam empat bab
yang terdiri dari:
BAB 1 : PENDAHULUAN
Bab pertama ini menguraikan latar belakang
penulisan paper,
ruang lingkup yang berisi batasan pembahasan yang terdapat di dalam topik ini,
tujuan dari penulisan dan manfaat apa saja yang diharapkan, metodologi
pembuatan paper,
dan sistematika penulisan yang digunakan yang penulis gunakan.
BAB 2 : LANDASAN TEORI
Bab kedua menguraikan
mengenai pembahasan konsep dan landasan teori yang terbagi dalam teori-teori
umum dan teori-teori khusus yang berhubungan dengan topik yang dibahas sebagai
landasan dalam penulisan paper Supply Chain Management
ini.
BAB 3 : PEMBAHASAN
Bab ketiga menguraikan mengenai pembahasan
topik yang kami sajikan, di bab ketiga ini juga kami menjelaskan hasil
penelitian kami secara detail agar bisa dimengerti oleh pembaca.
BAB 4 : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab keempat merupakan bab penutup yang berisi
kesimpulan yang telah diperoleh penulis dari hasil penelitian sesuai dengan
topik yang diangkat, serta berisi saran-saran terhadap pihak yang terkait agar
dapat memanfaatkan paper ini dengan
baik.
BAB
2
LANDASAN
TEORI
2.1 Teori – Teori Umum
Sistem memiliki banyak pengertian, tetapi pada
dasarnya pengertian tersebut memiliki maksud yang sama. Dalam analisis dan
perancangan sistem informasi penulis harus memahami terlebih dahulu pengertian
sistem informasi agar dapat melakukannya.
Berikut adalah pengertian sistem
informasi secara umum:
2.1.1
Sistem
Sistem sudah sangat mempengaruhi dunia bisnis dan
sudah menjadi bagian persaingan bisnis di jaman yang sudah berkembang ini dalam
mendukung semua aktivitas pada perusahaan.
Menurut McLeod (2009, p4), sistem adalah kelompok
elemen yang terintegrasi yang memiliki maksud dan tujuan yang sama.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005, p30) berpendapat
bahwa sistem adalah kumpulan komponen yang saling berhubungan dan berfungsi
untuk mencapai sebuah hasil.
Dari definisi
di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan komponen yang
terintegrasi dan memiliki maksud dan tujuan yang sama dan mengeluarkan output.
2.1.2
Data
Data merupakan bentuk jamak dari datum. Data merupakan properti yang
ditemukan dalam entitas-entitas pada dunia nyata yang berguna untuk
menggambarkan arti dari entitas-entitas tersebut. Sebagai contoh, salah satu
dari entitas manusia adalah Nama.
Menurut R. Kelly (2009, p10) berpendapat bahwa data
mengacu pada deskripsi dasar dari suatu kejadian, aktifitas, dan transaksi yang
terekam, bersifat rahasia, dan tersimpan namun tidak teratur dalam penyampaian
suatu hal yang spesifik beserta artinya.
Sedangkan menurut O’Brien & Marakas (2010, p34),
kata data merupakan bentuk jamak dari datum, walaupun data biasanya mewakili
baik bentuk tunggal maupun jamak. Data adalah fakta atau observasi mentah yang
biasanya mengenai fenomena fisik atau transaksi bisnis. Lebih rincinya, data
adalah pengukuran objektif dari attribute
(karakteristik) dari entitas (seperti manusia, tempat, barang dan kejadian).
Kesimpulannya adalah data merupakan fakta mentah
yang mendeskripsikan suatu hal dan jika diolah lebih lanjut dapat memberikan
informasi yang penting bagi pemilik data tersebut.
2.1.3
Informasi
Informasi berasal dari pengelolahan
data yang menjadi sebuah komponen diperlukan saat perusahaan melakukan
pengambilan keputusan, dan melakukan perencanaan kedepannya.
Menurut R. Kelly (2009, p10), informasi adalah data yang sudah dikelola
yang menghasilkan suatu nilai dan arti bagi penerimanya.
Menurut Rainer & Cegielski
(2011, p10) informasi merupakan data-data yang telah diorganisir sehingga
memiliki arti dan nilai bagi penerimanya.
Kesimpulan yang penulis ambil
adalah informasi merupakan pengolahan data yang lebih lanjut dan memiliki nilai
dan manfaat tersendiri untuk penggunanya.
2.1.4
Sistem
Informasi
Sistem informasi sangat dibutuhkan dalam suatu
kegiatan pada perusahaan saat ini, seperti menggunakan teknologi komputer dalam
melakukan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, analisis untuk mencapai sebuah
tujuan dalam kegiatan perusahaan.
Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005, p7)
berpendapat, merupakan komponen yang saling berhubungan dalam mengumpulkan,
memproses, menyimpan, dan menyediakan sebagai hasil.dari kebutuhan informasi
untuk menyelesaikan pekerjaan bisnis.
Sedangkan menurut O’Brien & Marakas (2010, p4),
sistem informasi dapat merupakan kombinasi teratur apapun dari orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang
mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.
Kesimpulannya adalah sistem informasi merupakan
kolaborasi antara sistem, manusia, komputer serta jaringan komunikasi yang
menghasilkan suatu informasi yang berguna bagi user.
2.2 Teori – Teori Khusus
Teori khusus yang akan dibahas meliputi
pembahasan-pembahasan yang telah penguji batasi sebagai objek penelitian.
Berikut adalah masing-masing pengertian tersebut:
2.2.1
SCM (Supply Chain Management)
Menurut Simchi-Levi (2002), SCM
adalah suatu kumpulan pendekatan yang digunakan
untuk mengintegrasikan secara
efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur,
pergudangan, dan toko, sehingga
barang diproduksi dan didistribusikan pada kuantitas,
lokasi, dan waktu yang benar,
untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang
memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.
Chopra & Meindl (2001)
berpendapat bahwa SCM mencakup manajemen atas aliranaliran
di antara tingkatan dalam suatu
rantai pasok untuk memaksimumkan keuntungan
total.
Kesimpulannya
SCM merupakan sebuah konsep yang mengatur rantai pasokan dari barang mentah
sampai penjualan barang jadi oleh karena itu SCM sering disebut factor penting dalam perdagangan, SCM sejatinya
dimiliki oleh setiap perusahaan yang menjadi masalah hanya baik atau tidaknya
rancangan SCM perusahaan tersebut.
2.2.1.1 Komponen SCM
Menurut
Turban, Rainer, Porter (2004, h321), terdapat 3 macam komponen rantai suplai,
yaitu:
- Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain
Bagian Upstream supply chain
meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya
(yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi
mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier).
Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari
asal material Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah
pengadaan.
- Manajemen Internal Suplai Rantai/Internal supply chain
management
Bagian dari internal supply chain
meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam
mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk
ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama
adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.
- Segmen Rantai Suplai Hilir/Downstream supply chain
segment
Downstream supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan
pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain,
perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.
Chopra & Meindl (2001)
menyatakan bahwa dalam SCM terdapat empat penggerak
(driver), yaitu
persediaan, transportasi, fasilitas, dan informasi. Dari keempat penggerak
tersebut, informasi merupakan
penggerak utama. Informasi sangat mempengaruhi ketiga penggerak lainnya.
BAB
3
PEMBAHASAN
3.1
Definisi Supply Chain Management
Supply Chain adalah proses
perpindahan barang, informasi, pembayaran, layanan, dari perusahaan penyedia
barang mentah (supplier) melalui suatu perusahaan, kepada pelanggan. Hal ini
juga termasuk proses pembuatan, dan distribusi barang jadi, informasi dan
layanan kepada pelanggan.
Supply Chain
Management adalah kombinasi ilmu dan seni yang diterapkan dengan tujuan untuk
meningkatkan cara suatu organisasi atau perusahaan menemukan bahan mentah untuk
menghasilkan produk atau layanan dan menyampaikan atau mengirimkan barang atau
layanan tersebut kepada pelanggan. Supply Chain Management termasuk
merencanakan, mengatur, mengkoordinir dan mengawasi semua kegiatan pada supply
chain.
Dalam supply
chain ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan yang mempunyai
kepentingan yang sama, yaitu :
1.
Supplies
2.
Manufactures
3.
Distribution
4.
Retail Outlet
5.
Customers
a. Chain 1:
Supplier
Jaringan bermula
dari sini, yang merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana rantai
penyaluran baru akan mulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku,
bahan mentah, bahan penolong, barang dagangan, suku cadang dan lain-lain.
b. Chain 1-2-3:
Supplier-Manufactures
Distribution
Barang yang
sudah dihasilkan oleh manufactures sudah mulai harus disalurkan kepada
pelanggan. Walaupun sudah tersedia banyak cara untuk menyalurkan barang kepada
pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh
sebagian besar supply chain.
c. Chain
1-2-3-4: Supplier-Manufactures
Distribution-Retail
Outlet
Pedagang besar
biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak
lain. Gudang ini digunakan untuk menyimpan barang sebelum disalurkan lagi ke
pihak pengecer. Disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk
jumlah inventoris dan biaya gudang dengan cara melakukan desain kembali pola
pengiriman barang baik dari gudang manufacture maupun ke toko pengecer.
d. Chain
1-2-3-4-5: Supplier-Manufactures
Distribution-Retail
Outlet-Customer.
Para pengecer
atau retailer menawarkan barang langsung kepada para pelanggan atau pembeli
atau pengguna barang langsung. Yang termasuk retail outlet adalah toko
kelontong, supermarket, warung-warung, dan lain-lain.
Secara sederhana
pemain utama dalam proses SCM dapat digambarkan dibawah ini :

Gambar
3.1 Proses SCM
Ada 3 macam hal
yang harus dikelola dalam supply chain yaitu :
1. Pertama,
aliran barang dari hulu ke hilir contohnya bahan baku yang dikirim dari
supplier ke pabrik, setelah produksi selesai dikirim ke distributor, pengecer,
kemudian ke pemakai akhir.
2. Kedua,
aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu dan
3. Ketiga
adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir atau sebaliknya.
Secara sederhana sebuah model
struktur Supply Chain dapat disederhanakan seperti nampak dalam Gambar dibawah
ini :

Gambar
3.2 Model struktur Supply Chain
Sedangkan Supply
Chain Management (SCM) adalah merupakan aplikasi terpadu yang memberikan
dukungan sistem informasi kepada manajemen dalam hal pengadaan barang dan jasa
bagi perusahaan sekaligus mengelola hubungan diantara mitra untuk menjaga
tingkat kesediaan produk dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan secara
optimal. SCM mengintegrasikan mulai dari pengiriman order dan prosesnya,
pengadaan bahan mentah, order tracking, penyebaran informasi, perencanaan
kolaboratif, pengukuran kinerja, pelayanan purna jual, dan pengembangan produk
baru.
Jadi kalau
supply chain adalah jaringan fisiknya, yakni perusahaan-perusahaan yang
terlibat dalam memasok bahan baku,
memproduksi barang maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, sedangkan SCM adalah
metode, alat atau pendekatan pengelolaannya. Sebagai contoh supply chain produk
sepatu sbb. :

Gambar
3.3 diagram alur supply chain
3.2 Perkembangan Supply Chain
Management
Yang melatarbelakangi berkembangnya konsep SCM
adalah akselerasi perubahan lingkungan bisnis disebabkan berkembangnya secara
cepat faktor- faktor penting, antara lain:
a. Tuntutan konsumen
yang semakin kritis.
b. Infrastruktur
telekomunikasi, informasi, transportasi, dan perbankan yang semakin
canggih kemungkinkan berkembangnya model
baru dalam aliran material / produk.
c. Daur hidup produk
sangat pendek seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan
pasar.
d. Kesadaran konsumen
akan pentingnya aspek sosial dan lingkungan dalam kehidupan, menuntut industri
manufaktur memasukkan konsep-konsep ramah lingkungan mulai dari proses
perancangan produk, proses produksi maupun proses distribusinya
Menurut
Ross, F.D (2003), awal perkembangan konsep SCM didasarkan pada dua fakta yaitu
bahwa pada tahun 1960-an pabrikan dituntut untuk menurunkan biaya produksi dan
perkembangan teknologi informasi khususnya internet yang mampu membantu
merealisasikan suatu sistem terpadu sehingga mendorong perusahaan untuk
melakukan efisiensi biaya bukan saja pada lingkup satu perusahan saja.
Supply
Chain mencakup 3 bagian :
1.
Upstream Supply Chain
Bagian ini mencakup supplier first-tier dari
organisasi (dapat berupa perusahaan manufaktur atau asembling) dan suppliernya,
yang didalamnya telah terbina suatu hubungan/relasi.
2.
Internal Supply Chain
Bagian ini mencakup semua proses yang digunakan oleh
organisasi dalam mengubah input yang dikirim oleh supplier menjadi output,
mulai dari waktu material tersebut masuk pada perusahaan sampai pada produk
tersebut didistribusikan, diluar perusahaan tersebut.
3.
Downstream Supply Chain
Bagian ini mencakup semua proses yang terlibat dalam
pengiriman produk pada customer akhir.
Aktivitas
Manajemen Rantai Pasokan :
a. Meramalkan
permintaan pelanggan
b. Membuat jadwal
produksi
c. Menyiapkan jaringan
transportasi
d. Memesan persediaan
pengganti dari para pemasok
e. Mengelola
persediaan: bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi
f. Menjalankan produksi
g. Menjamin kelancaran
transportasi sumber daya kepada pelanggan
h. Melacak aliran
sumber daya material, jasa, informasi, dan keuangan dari pemasok, di dalam
perusahaan, dan kepada pelanggan.
Prinsip dasar
Supply Chain Management
a. Prinsip
Integrasi
Semua elemen yang
terlibat dalam rangkaian SCM berada dalam satu kesatuan yang kompak dan
menyadari adanya saling ketergantungan
b. Prinsip
Jejaring
Semua elemen berada dalam hubungan kerja yang selaras
c. Prinsip
Ujung ke Ujung
Proses operasinya
mencakup elemen pemasok yang paling hulu sampai ke konsumen yang paling hilir
d. Prinsip
Saling Tergantung
Setiap elemen dalam SCM
menyadari bahwa untuk mencapai manfaat bersaing diperlukan kerjasama yang saling
menguntungkan
e. Prinsip
Komunikasi
Keakuratan data menjadi
darah dalam jaringan untuk menjadi ketepatan informasi dan material
Tujuan
utama dari SCM adalah:
1.
penyerahan / pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan konsumen
2.
mengurangi biaya
3.
meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu
perusahaan)
4.
mengurangi waktu
5.
memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi
Lima komponen
dasar dari Supply Chain Management adalah :
1.
Plan
Plan atau perencanaan
merupakan kegiatan strategi untuk mengatur semua sumber (sources) agar memenuhi
permintaan pelanggan atas suatu produk atau layanan.
2.
Source
Source (sumber)
mencakup supplier (perusahaan penyedia barang) yang menghantarkan barang atau
layanan yang dibutuhkan untuk pembuatan barang jadi.
3.
Make
Ini merupakan langkah
produksi, dimana perlu dilakukan penjadwalan terhadap aktivitas-aktivitas yang
dibutuhkan untuk produksi, uji coba, packaging, dan persiapan untuk pengiriman
barang.
4.
Deliver
Bagian ini juga dikenal
dengan logistik. Pada bagian ini perlu dilakukan koordinasi antara pesanan dari
pelanggan, bangun jaringan warehouse , tentukan pengangkutan yang akan
mengirimkan barang atau layanan kepada pelanggan dan membuat sistem invoice
untuk menerima pembayaran.
5.
Return
Bagian ini merupakan bagian yang
menjadi masalah dalam Supply Chain. Buat suatu jaringan untuk menerima
pengembalian barang atau layanan dan melayani pelanggan yang memiliki masalah
dengan pengiriman barang.
Peralatan
fungsional yang dimiliki sistem SCM adalah:
a.
Demand
management/forecasting
Perangkat peralatan
dengan menggunakan teknik-teknik peramalan secara statistik. Perangkat ini
dimaksudkan untuk mendapatkan hasil peramalan yang lebih akurat.
b.
Advanced
planning and scheduling
Suatu peralatan dalam rangka
menciptakan taktik perencanaan, jangka menengah dan panjang berikut
keputusan-keputusan menyangkut sumber yang harus diambil dalam rangka
melengkapi jaringan supply
c.
Transportation
management
Suatu fungsi yang
berkaitan dengan proses pendisitribusian produk dalam supply chain Distribution
and deployment
Suatu alat perencanaan
yang menyeimbangkan dan mengoptimalkan jaringan distribusi pada waktu yang
diperlukan. Dalam hal ini, Vendor Managed Invetory dijadikan pertimbangan dalam
rangka optimalisasi.
d.
Production
planning
Perencanaan produksi
dan jadwal penjualan menggunakan taraf yang dinamis dan teknik yang optimal.
e.
Available
to-promise
Tanggapan yang cepat
dengan mempertimbangkan alokasi, produksi dan kapasitas transportasi serta
biaya dalam keseluruhan rantai supply .
f.
Supply
chain modeler
Perangkat dalam bentuk
model yang dapat digunakan secara mudah guna mengarahkan serta mengontrol
rantai supply. Melalui model ini, mekanisme kerja dari konsep supply chain
dapat diamati.
g.
Optimizer
The optimizer ibarat
jantung dari sistem supply chain management. Dalamnya terkandung: linear &
integer programming, non-linear programming, heuristics and genetic algorithm.
Genetic algorithm adalah suatu computing technology yang mampu mencari serta
menghasilkan solusi terbaik atas jutaan kemungkinan kombinasi atas setiap
parameter yang digunakan
3.3 Jenis-Jenis Supply Chain
Berikut
ini jenis-jenis Supply Chain yang umum :
a. Integrated
make-to-stock
Supply Chain model ini
menelusuri permintaan pelanggan yang mungkin untuk suatu waktu, sehingga proses
produksi dapat melakukan pengadaan barang inventori secara efisien. Hal ini
adapat diatasi dengan menggunakan Sistem Informasi yang terintegrasi. Dengan menggunakan
sistem Informasi yang terintegrasi tersebut, organisasi dapat mengetahui
informasi tentang permintaan pelanggan pada waktu yang tepat, sehingga
informasi tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan dan memodifikasi
perencanaan dan jadwal produksi.
b. Continuous
Replenishment
Pada Supply Chain model
ini, dilakukan pengadaan barang incentori secara berkesinambungan. Jenis ini
sangat sesuai untuk lingkungan yang pola permintaan pelanggannya stabil.
c. Build-to-order
Pada Supply Chain model
ini, perakitan tehadap barang jadi dilakukan ketika pelanggan telah mengajukan
permintaan atau pesanan terhadap barang tersebut.
d. Channel
Assembly
Channel Assembly merupakan
modifikasi dari model build-to-order. Untuk Supply Chain model ini, proses
perakitan barang terjadi di saat perpindahan barang tersebut pada jalur
distribusi.
3.4 Global Supply Chain
Global Supply Chain adalah Supply Chain yang
melibatkan supplier (perusahaan penyedia barang) dan atau pelanggan di
negara-negara lain. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari Global Supply
Chain adalah:
Barang, layanan serta tenaga kerja yang murah. Tersedianya
barang-barang yang tidak dapat ditemukan di dalam negeri. Produk-produk yang
tersedia dia pasar global memiliki kualitas yang lebih tinggi. Meningkatkan kompetisi
global yang berakibat dapat mengurangi biaya.
3.4 Permasalahan Supply Chain dan
Solusinya
3.5.1 Permasalahan Supply Chain
Permasalahan
terhadap supply Chain terdiri atas dua sumber :
·
Ketidakpastian
Masalah ketidakpastian
terletak pada peramalan permintaan (demand forecast) dan juga masalah
ketidakpastian waktu pengiriman barang (delivery times). Prediksi atau
peramalan terhadap permintaan barang diengaruhi oleh kompetisi, harga,
pengembangan teknologi tingkat kepercayaan pelanggan dan lain sebagainya.
Sementara itu, waktu pengiriman barang tergantung pada beberapa faktor seperti
kegagalan produksi, lalu lintas pengiriman dan lain-lain.
·
Kebutuhan untuk mengkoordinir beberapa
aktivitas, unit internal, dan rekan-rekan bisnis.
Permasalahan koordinasi
terjadi ketika kurangnya koordinasi pada suatu organisasi seperti rekan bisnis
mengalami kesalah pahaman terhadap pesan dari organisasi, atau terlambatnya
penyampaian informasi dan lain sebagainya.
·
Permasalahan lain pada Supply Chain
adalah Phantom Stockouts, yaitu permasalahan yang terjadi ketika pelanggan
mendapat informasi bahwa produk yang mereka inginkan tidak tersedia.
·
Proses terlalu lamban karena linear
Proses dibuat paralel menggunakan software workflow. pengiriman dokumen lamban
menggunakan dokumen dan system komunikasi elektronik.
·
Kesalahan pengiriman barang sehingga
terjadi pengulangan proses Verifikasi cara elektronik, otomatis.
·
Kualitas yang rendah Menggunakan sistem
pengawasan kualitas elektronik (Electronic Quality Control).
·
Proses pembelajaran yang lamban,
mempelajari delay setelah terjadi. Tracking Systems, antisipasi delay, trend
analysis, pendeteksian dini dengan menggunakan intelligent systems.
·
Distribusi Konfigurasi Jaringan: Jumlah
dan lokasi supplier, fasilitas produksi, pusat distribusi ( distribution
centre/D.C.), gudang dan pelanggan
3.5.2 Solusi Terhadap Permasalahan Supply Chain
Berikut
ini beberapa permasalahan pada Supply Chain dan solusinya :
·
Strategi Distribusi: Sentralisasi atau
desentralisasi, pengapalan langsung, Berlabuh silang, strategi menarik atau
mendorong, logistik orang ke tiga.
·
Informasi: Sistem terintregasi dan
proses melalui rantai suplai untuk membagi informasi berharga, termasuk
permintaan sinyal, perkiraan, inventaris dan transportasi dsb.
·
Manajemen Inventaris: Kuantitas dan
lokasi dari inventaris termasuk barang mentah, proses kerja, dan barang jadi.
·
Aliran dana: Mengatur syarat pembayaran
dan metodologi untuk menukar dana melewati entitas didalam rantai suplai.
·
Manajemen Inventori dani Supply Chain
yang efektif membtuhkan koordinasi terhadap semua aktivitas dan link-link yang
terdapat pada Supply Chain. Dengan adanya kooordinasi, produk atau layanan
mengalir dari supplier melalui perusahaan atau organisasi ke pelanggan tepat
waktu.
·
Efisiensi dan efektivitas dari Supply
Chain bergantung pada dukungan sistem informasi atau peranteknologi informasi
paad organisasi tersebut.
3.6 Dukungan Teknologi Informasi terhadap
Supply Chain dan Integrasi Sistem
3.6.1 Dukungan Teknologi Informasi
Sejak ditemukannya komputer, manusia ingin mejadikan
proses pada Supply Chain menjadi otomatis. Berbagai macam aplikasi sofware
diciptakan, seperti system Manajemen Inventori, Penjadwalan Produksi, dan
Billing.
3.7 Integrasi Sistem
Perusahaan pada masa sekarang tidak dapat lagi
dikelola dengan menggunakan Sistem Fungsional (Functional System), dimana
antara departemen atau area kerja tidak dapat berhubungan. Integrasi sistem
memungkinkan adanya komunikasi antara berbagai macam area kerja. Untuk itu
suatu perusahaan atau organisasi memerlukan sistem yang terintegrasi. Berikut
beberapa keuntungan yang diperoleh dar integrasi sistem :
Keuntungan yang dapat diukur : Pengurangan
inventori, Pengurangan anggota perusahaan, Peningkatan produktivitas,
Peningkatan manajemen pemesanan barang atau layanan, Pengurangan biaya
teknologi informasi,
Pengurangan biaya Procurement, Pengingkatan
manajemen cash, Peningkatan, Keuntungan,Pengurangan biaya trasportasi dan
logistik dan lain sebagainya.
Keuntungan yang tidak dapat diukur : Keberadaan
informasi (information visibility), Peningkatan proses, Peningkatan respon
terhadap pelanggan, standardisasi, felksibilitas, globalisasi, dan kinerja
bisnis.
3.7.1 Integrasi Supply Chain dan Value Chain
Integrasi antara Supply Chain dan Value Chain
ditujukan untuk mempercepat operasi pada area biaya produk dan layanan,
kualitas, pengiriman, teknologi dan waktu siklus dari suatu barang atau layanan
dengan meningkatkan kompetisi demi memenuhi perimintaan pelanggan.
Value Chain menggambarkan aktivitas-aktivitas utama
dalam suatu organisasi seperti pembelian produk atau layanan, transportasi,
logistik dan lain sebagainya. Ketika Value Chain ini diperluas dengan mencakup
supplier, pelanggan, maka disebut dengan value system atau value chain
terintegrasi.
Value Chain terintegrasi adalah suatu proses dimana
beberpaa perusahaan yang berada pada suatu jalurpasar yang sama, bekeja sama
merencanakan, mengimplementasikan dan mengatur
Supply Chain Management dalam perusahaan dimungkinkan
peningkatan efektifitas dan efisiensi dalam proses pembelian bahan baku,
pemenuhan pesanan customer serta proses distribusi barang jadi. Penerapan
supply chain management di masa seperti ini cocok di terapkan, karena system
ini memiliki kelebihan dimana mampu me-manage aliran barang atau produk dalam
suatu rantai supply.
Bab 4
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
1. Menurut penulis dengan adanya
penjelasan permasalahan yang terjadi dalam Supply
Chain Management dan solusinya membuat perusahaan/organisasi dapat lebih
siap untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak terduga yang menyebabkan
kerugian pada organisasi/perusahaan.
2. Penulis
mengambil kesimpulan bahwa penjelasan definisi dari Supply Chain Management
mengajarkan hal tentang pemeran utama Supply
Chain, hal-hal yang perlu dikelola, serta model struktur dalam Supply Chain
sebagai acuan dasar penerapan dan penggunaan Supply Chain Management.
3. Penulis
melihat bahwa perkembangan konsep Supply Chain
Management ini terus berkembang dengan cepat yang dipengaruhi oleh
perubahan dalam lingkungan bisnis organisasi/perusahaan sehingga
perusahaan/organisasi harus tetap konsisten memantau faktor-faktor perubahan
yang terjadi dalam lingkungan bisnis perusahaan/organisasinya.
4. Penulis
menelusuri dan mendapatkan suatu hal penjelasan tentang prinsip, komponen, alat
fungsional, serta tujuan dari Supply
Chain Management yang digunakan oleh perusahaan/organiasi sebagai sasaran,
etika, pembangunan, pengembangan dan penerapan Supply Chain Management.
5. Dengan
mengetahui pentingnya dukungan TI
terhadap Supply Chain Management dan
integrasi sistem. Perusahaan/organisasi dapat terus mengembangkan TI yang
selaras dan sesuai dengan proses bisnis perusahaan/organisasi sehingga
memberikan keuntungan yang maksimal dan efisiensi, efektif dalam proses
pembelian bahan baku, pemenuhan pesanan konsumen, serta proses distribusi
barang.
4.2 Saran
1. Perusahaan/organisasi
yang ingin menjalankan serta menerapkan Supply
Chain Management harus mempunyai kemauan yang kuat agar pelaksanaannya
tidak setengah-setengah melainkan dilakukan secara terus-menerus
dikembangkan dalam jangka penjang untuk
mencapai tujuan dari organisasi/perusahaan.
2. Apabila
perusahaan/organisasi yang ingin menerapkan serta melaksanakan Supply Chain Management disesuaikan
dengan kemampuan dan keselarasan proses bisnis organisasi/perusahaan serta
didukung dengan solusi, konsep, prinsip,
komponen, peralatan fungsional Supply
Chain Management sehingga tidak terjadi masalah dalam pengembangan dan
penerapannya.
3. Perusahaan/organisasi
harus menyadari bahwa penerapan dan pelaksanaan Supply Chain Management ini
bisa berubah-berubah tergantung dari perubahan dalam lingkungan bisnis. Oleh
karena itu perusahaan/organisasi harus terus memantau faktor-faktor apa saja
yang membuat perubahan dalam lingkungan bisnis tersebut.
4. Perusahaan/organisasi
harus terus bisa meningkatkan dan mengembangkan TI agar bisa memberikan
dukungan secara terus-menerus pada Supply Chain dan integrasi sistem.
5. Perusahaan/organisasi
harus bisa menentukan jenis Supply Chain
yang digunakan dengan maksud disesuaikan dengan proses bisnis dan lingkungan
bisnis dari organisasi/perusahaan.
Komentar
Posting Komentar